Rabu, 20 Oktober 2010

rabu matahariku

Horeeeee...
Senang hatiku...
Program rabu liat matahari berhasil hari ini. Meninggalkan kantor dg tersenyum. Ha ha ha *tertawa ding*
Begitu d taxi langsung pengen buka blogger mau lapor. Dan sempat godaan teman d YM dulu. Ooow indahnya dunia. Berharap bertemu matahari... walupun sdh ampir magrib dan mendung gelap.
Paling tidak aq wajib lapor sehubungan dengan program resolusi agustus.

Senin, 11 Oktober 2010

Puisi untuk FGH

*Setelah mencoba beberapa kali gagal menulis puisi malam ini... Akhirnya bisa juga sedikit... Terinspirasi dari puisi Ratih Sang... Dan entahlah... apakah ini namanya puisi atau prosa liris atau... entahlah.  Walopun diberi judul Puisi untuk FGH.  he he he*

Puisi untuk FGH


Anandaku...
Kalian ada untuk Mama... merasakan indahnya menjadi Ibu.
Menjadi sumber energi Mama ketika lelah dan letih karena apapun yang Mama alami di hari mama
Engkau batre Mama  ketika Mama sedang lowbat...
Engkau lilin hati Mama ketika Mama gundah gulana...
Engkau cahaya mata Mama ketika menatapmu nan begitu lucu dan menggemaskan.
Anakku... Kalian sungguh menjadi anugrah Allah terindah bagi Mama.
Dan... perlu kalian tau... celotehmu *dengan permintaan kado cinta* adalah catatan kenangan indah bagi Mama. Biarlah Mama jadi penyimannya.. Penyimpan kenangan indahmu


Cinta...
Hari-hari bersamamu...  Hari-hari Mengandungmu... Membacakan cerita di telingamu dalam perut Mama. Berbicara melalui mata hati kita. Entah engkau mengerti atau tidak Nak... Mama masih teringat rasanya bagaimana Engkau ada dalam tubuh Mama. 

Sayang Mama...
Hari nan indah ketika melahirkanmu sayangku...
Ketika pertama kali Mama memeluk tubuh kalian... Mencium lembut pipi yang masih bercampur air ketuban. Oh... Mama masih ingat rasanya... Merasakan pertama kali engkaulah cinta Mama. Seakan tak percaya.. Apakah kalian sungguh ada... Seperti baru bangun dari mimpi.
Mama cubit pipi mama sendiri...
Oh... Mama sungguh tak bermimpi.
Kalian sungguh ada untuk Mama... Cahaya Mata Mama.

Anandaku...
Berlanjut hari hari indah bersama kalian...
Ketika menyusui engkau anak-anaku...
Mendekap dan menatap mata beningmu Cintaku...
Tersenyum dan mengajakmu berbicara... Seakan engkau mengerti hati Mama...
Sungguh Mama masih ingat rasanya... Dan Mama merindukan saat -saat itu...
Biarpun Mama mesti terjaga diwaktu malam... Mama sungguh menanti saat-saat melihatmu menatap Mama.
Mama rindu saat-saat itu... *barangkali ini juga sebabnya... Faiz cinta nenen terus menerus...*

FGHku..
Mengandungmu..melahirkanmu...menyusui dan semua hari-hari indah bersama kalian sungguh menjadikan Mama merasa ada... Dan seperti itulah nenek kalianpun sayang pada Mama...
Smoga Mama bisa menjaga amanah terindah.. project terbesar Mama dalam kehidupan.
Membimbingmu anak-anakku.. menuju ke syorga Allah.

Bogor, 11 Oktober 2010

Puisi gagal dan "Bila Ibu boleh memilih..."

Tiba-tiba serasa aneh...
Kenapa aku jadi ingin membuat puisi? ha ha ha Pekerjaan yang paling sulit buatku.

Aku mencoba membuat puisi. Setelah dapat satu bait... aku hapus lagi... rasanya aneh karena sangat tidak 'aku sekali' dan aku sendiri seakan tak paham maknanya. he he he

Sebenarnya kalo disuruh membalas puisi lebih mudah bagiku daripada membuat puisi dengan judul baru.

Iseng amat ya aku ini...  Ternyata aku tak berbakat menulis puisi seperti Ratih Sang. Daripada membuat puisi sendiri aku... aku coba kutip puisi Ratih Sang brikot :



Bila Ibu Boleh Memilih
Anakku,…
Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu
Maka ibu akan memilih mengandungmu…
Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah

Sembilan bulan nak,… engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata…

Anakku,…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar, atau ibu harus berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit,
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun

Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah… saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di telinga mungilmu

Anakku,…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,
Maka ibu memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan

Anakku,…
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu

Tetapi anakku…
Hidup memang pilihan…
Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak…
Maafkan ibu…
Maafkan ibu…
Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang
Percayalah nak…
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak…
Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu…

Ratih Sanggarwati (Ratih Sang)
Jakarta, 21 Agustus 2004
Dikutip dari Bila Ibu Boleh Memilih, kumpulan puisi hati Ratih Sanggarwati

*Aq masih berkaca-kaca membaca puisi ini walopun membacanya atau mendengar Puisi ini dibacakan bukan yang pertama kalinya... Kalo ini brasa aku banged kali ya he he he *

Sabtu, 09 Oktober 2010

Rinduku pada ibu

Lagi bekerja di lapi... dengerin lagu. *ada lagu Ungu yang lewat...*
Tiba-tiba pagi ini aku inget seseorang yang sangat kucinta.Yang sangat setia menjadi bagian hidupku bagaimanapun aku.
Menyayangiku terus menerus... ga putus-putus.

Trima kasih Allah... Engkau berikan kami seorang wanita hebat seperti dia.

Doa untuk Ibu
by : Ungu

kau memberikanku hidup
kau memberikanku kasih sayang
tulusnya cintamu, putihnya kasihmu
takkan pernah terbalaskan
hangat dalam dekapanmu
memberikan aku kedamaian
eratnya pelukmu, nikmatnya belaimu
takkan pernah terlupakan

reff:
oh ibu terima kasih
untuk kasih sayang yang tak pernah usai
tulus cintamu takkan mampu
untuk terbalaskan

oh ibu semoga tuhan
memberikan kedamaian dalam hidupmu
putih kasihmu kan abadi
dalam hidupku

ooohh putih kasihmu kan abadi
dalam hidupku

Jumat, 08 Oktober 2010

Memutar 'video hari ini' dengan scenario berbeda

Knapa ya hari ini energi negatifku banyaaaaak?
Begitu masuk kantor, tersenyum ke semua orang *bahkan satpam di depan saja yang tak kusenyumi selama ini saja aku senyumi pagi tadi* dan menyapa semua orang di kantor ketika pagi hari. *mulai dari pintu masuk sampai ke ujung ruangan karena kebetulan mejaku paling ujung*  Sampai memuji Ucup karena penampilannya berbeda pagi tadi. *semua ini tuluuuus... walopun aku sebutkan disini*

Namun hatiku ini masih dibolak-balikkan Allah. Sungguh Engkah Maha Menguasai hati ini ya Rabb...
Sungguh hamba tak berdaya kalau bukan karena Engkau... Betapa mudah hati ini riang dan mudah juga untuk muram...
Caraku adalah melupakan semua itu.... *aku tau sumbernya tapi aku tak kuasa memberhentikan pikiranku* Tanpa menggunakan kata "tapi"  .....
Menyebut engkau ketika energi negatif itu datang. 
Hal ini membantu namun sedikit untuk hari ini.
Aku sunggug berharap selamanya atas lindunganMu ya Rabb. Tolonglah wahai Penguasa hatiku...

Satu cara yang akan kucoba malam ini... Sebelum tidur aku akan memutar video hari ini dengan scenario yang berbeda. Kan kuputar video itu dari energi negarif menjadi positif. Semoga aku bisa mempertahankan energi positif ini... menjadikan hati ini lebih baik.

Kamis, 07 Oktober 2010

daun yang jatuh tak pernah membenci angin

Novel tentang seorang gadis kecil (Tania) yang jatuh cinta pada Pemuda yang menjadi malaikatnya, malaikat bagi kluarga mereka, bagi ibu, Dede dan Tania. Novel yang tak mengharu biru dengan gaya bahasa yang hidup... Serasa Tania sungguh yang sebenarnya ada. Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Daun dari pohon linden.. Daun coklat berbentuk hati..
Cinta Tania pada malaikatnya yang disebutnya dia... sangat sempurna. Dia berjanji tak akan pernah menangis kecuali demi dia.
Cintanya sangat sempurna tapi dia tidak sempurna... Dia mencintai Tania tapi tak pernah mengakuinya. Tumbuh tunasnya dipangkasnya habis, menyeruak dicabutnya... Cinta yang tak mungkin... Cinta yang akhirnya tak akan terwujud menjadi satu. Karena dia sudah memiliki yang lain.Cinta tak harus memiliki...
Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Ia mengajarkan keikhlasan.. Angin membuatnya jatuh dan ia menerimanya..
Novel tere liye yang termasuk tipis.. Hanya 256 halaman.

Jumat, 01 Oktober 2010

Apa yang kurasakan hari ini adalah untuk besok..

Mencuri waktu...
Jam kerja begini sempatnya aku mencuri waktu.. entry new posting d blog ini.
Yang jelas gag korupsi jam kerja... karena mencuri waktunya disaat istirahat sholat jumat.
Tak ada sesuatu yang istimewa yang perlu aku catat hari ini. Namun mencatat di blog ini bagiku sesuatu yang penting karena membuatku bahagia.

Hari ini aku berhasil memulai sesuatu untuk positive feeling.
Ketika aku mengingat suatu kejadian yang mengecewakanku aku bisa melupakan.
Mengatakan pada diri sendiri bahwa tak ada gunanya aku mengingatnya.
Lumayan berhasil... dan tak kubiarkan waktu sedetikpun untuk mengingatnya.

Semua atas bantuan Allah... Smoga aku bisa mempertahankan.
Apa yang kurasakan hari ini menentukan apa yang akan kualamai besok...
Jadi aku tak boleh membiarkan energy negatif masuk dalam hatiku.

Tidak boleh pernah... *tanpa kata tapi...*